Fermat’s Last Theorem ‘lasted’ Tanayama’s Day

Sebelumnya, silakan buka link ini :) .

Sabtu ini saya mencoba nonton TED.com lagi yang sudah lamaaaaaa banget ngga tersentuh. Berkat ada temen yang bilang “saya big fan of TED.com loh”, jadi kepikiran untuk membuka-buka video #TEDGlobal. So, scrolling scrolling scrolling, dan salah satu yang saya tonton adalah kuliah dari Tim Harford.

Simpulan yang saya dapatkan adalah betapa berharganya kesalahan (error) yang terjadi setelah melakukan trial. Semua orang dapat melakukan kesalahan, namun kesalahan yang ‘bagus’ kah ? Is it really on the right way’s mistake ? 

Silakan lihat video yang sudah saya embed. Tapi yang membuat saya menegakkan badan dan meningkatkan fokus adalah ketika dia mengakhiri speak nya dengan cerita Tanayama dalam melakukan trial terhadap Fermat Last Theorem. Simply, Fermat Last Theorem (atau disingkat sebagai FLT) adalah teorema dari seorang matematikawan bernama Fermat yang sangat terkenal. 

Tidak ada 3 bilangan bulat a,b, dan c yang memenuhi persamaan an + bn = cn untuk setiap n > 2.  - FLT

Kisahnya adalah, belum ada yang dapat secara sempurna membuktikan teorema ini. Fermat hanya mencoret bukti teorema ini di sekitar buku teksnya dan masih belum ada yang mengidentifikasinya semenjak beliau meninggal. 

Lalu sejumlah orang mulai berlomba membuktikannya. 

Saya, sebagai mahasiswa matematika, pernah mendengar sekejap nama Tanayama – Shimura. Berdasarkan cerita Harford, Tanayama membuat sejumlah konjektur dan setelah konjektur ada konjektur dan konjektur lagi. Fyi, jika dijelaskan secara simpel, teorema (theorem) adalah statement yang terbukti, sedangkan konjektur (conjecture)  belum terbukti — tapi feelingnya sih bakal terbukti. Saya juga bisa sedikit mengerti seberapa besar trial dan error yang dia lakukan. Saya juga suka membuat kesalahan — yang paling terkenal adalah ketidaktelitian :p — atas pembuktian terhadap sesuatu yang jelas-jelas terbukti :D . Hal yang wajar. Tapi membutuhkan mental yang kuat. Entah seberapa juta konjektur yang telah dia pakai sedemikian dan kesalahan-kesalahan yang dia buat, akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri perjalanan dia membuktikan FLT itu dengan mengakhiri hidupnya sendiri.  

Akhir kisah dari Harford yang membuat seruangan terdiam, termasuk saya yang sudah beratus kali mendengar FLT -> bidang Number Theory. And so his statement, and for me, the quote of this day.

He’s (Tanayama) not a very careful person as the mathematician. He made a lot of mistakes. But he made mistakes in good directions. I tried to emulate him, but I realized, it’s very difficult to make good mistakes. (Shimura – Tanayama’s friend)

Yes, good mistake won’t last as a rubbish. Smart mistake. Many people will study and make another good trial and error. Hopefully, to develop better better and better life :)

Culture. Habit. Attitude. Chapter 1

Setelah seminggu berlalu, akhirnya hari ini jadwal saya mempersiapkan seminar (lagi dan lagi). Dengan kepala terhuyung karena baru sembuh dari sakit , saya datang ke lab. Paper kok kayaknya melayang-layang. Badan masih lesu. Tak lupa saya membawa oleh-oleh yang sudah terpending 3 bulan untuk warga 204 (Ruang lab saya). Oleh-olehnya simple parah : Kerupuk. Awalanya mau dikasih STMJ, tapi sudah keburu habis oleh orang-orang rumah, terutama saya :9. “Here’s some snack made by Indonesia,” kata saya. Sebenernya kerupuk itu asli Indonesia ya.. tapi berasa banyak duplikatnya hehehe.. Dari situ lah pembicaraan seru yang penting tapi ngga penting ini dimulai. Saya translate saja langsung bahasa mereka ke bahasa Indonesia :)

“Ini kok ngga bisa dibuka ?” itu lah kata-kata pertama yang diucap teman lab saya yg paling senior. Sebut saja si Kurata (ntah muncul dari mana namanya, tapi seriously, bukan itu namanya :D ). Akhirnya teman saya yang lain, yang duduk di sebelah Kurata pun ikut penasaran. Bahkan papernya ditinggal hanya untuk membuka itu kerupuk. Ouch, sorry.. Sebut saja teman yang meninggalkan papernya demi menyobek bungkus krupuk ini adalah Yosuke. Saya, yang masih berkutat dengan persiapan seminar, akhirnya merasa bertanggungjawab atas hal ini. Dicarilah gunting ke lab sebelah karena ternyata lab saya tidak punya gunting. Heuheuheu, mungkin mereka pikir programmer ga butuh gunting :p. Setelah kembali ke lab, ternyata si Yosuke berhasil membukanya dengan menojos si bolpen. Duh, emang segitu susahnya yak? Anyway, di lab juga ada yang namanya Heiji *nama samaran* yang sbenernya ikutan bantuin nyari gunting. Makaaaaaa sukseslah kami pesta krupuk. Kurata bener-bener heran, kenapa mau makan saja begitu sulit.

“Di sini, segala kemasan emang dibuat supaya mudah dibuka,” kata dia. Lalu saya menimpali, “Yap, kami juga sangat nyaman dengan kemudahan yang ada di sini (Jepang). Tapi, dengan sulitnya membuka kemasan itu, gigi orang Indonesia jadi kuat-kuat. Kenapa? Karena mereka membukanya dengan gigi :D ” dan saya pun tertawa. Mereka pun tertawa. Banyak tantangan yang berbeda ketika ada di Jepang dan ada di Indonesia. Itu pun akhirnya kami bahas satu per satu. Mungkin bagi yang berminat kesini (terutama orang Indonesia) akan terkaget-kaget dengan segala ke-strict-an yang ada di sini. Namun, kabar baiknya, banyak hal yang dimudahkan pula di sini seperti… yaa… membuka kemasan keripik. Hehe. Satu hal yang saya rasa beda sekali antara Tokyo dan kota ini, Kanazawa, adalah aman dan damai. Tidak ada klakson mobil, dan cukup sejuk. Udara pun bersih dan mobil pun sangat jarang. Bahkan, menurut saya ngga ada bahsa Jepang dari kata macet, karena mereka tidak memerlukannya. Lalu lintas pun rapi dan polisi pun semakin ngga ada kerjaan karena minimnya kriminalitas. Sangat unrecommended bagi yang suka tantangan yang pahit, hehe. Saya kemudian bercerita tentang Indonesia, dimana fleksibiltas itu sangat tinggi. Kami mulai dari transportasi.

Sistem transportasi di sini sangat rapi. Untuk wilayah saya, adanya cuman bus dan kereta. Sama seperti sistem MRT di Singapur, di sini pun tiket kereta dibeli di mesin tiket. Barisan rapi, sudah pasti. Saya katakan pada teman-teman saya bahwa jadwal bus dan kereta di sini sangat berbeda dengan di Indonesia. Di sini, ngga ada seni bermain probabilitas, karena semua jadwal sudah tertera rapi di stasiun dan halte. Kapan bus tipe A akan datang dan tipe B akan datang. Biasanya ada istilah non bus step, bus JR (Japan Railway), dan entah apa lagi. Jadwalnya pun bisa dilihat di internet. Begitu pula dengan sistem keretanya. Saya kemudian bercerita keadaan transportasi di daerah tempat tinggal yang sangat saya cintai, Bandung. Di sana saya ceritakan ada yang namanya angkot. And they really weird to hear that hehe. Saya ceritakan, kendaraan umum bernama angkot ini sangat mudah ditemukan jika Anda ke Bandung. Melihatnya pun senang karena warna warni. Di sana, kami bisa menghentikan makhluk bernama angkot ini dimana pun selama sesuai trayek dan cenderung dapat berhenti dimanapun. Mereka tercengang mendengarnya. Bahkan lebih terkaget lagi ketika saya katakan pintunya tidak ditutup. Mereka cuman mengangguk dan tercengang. Lalu kami peragakan kejadian angkot ini di lab hahahaha. “Jadi, kalau mau berhenti, katakan, Kiriii kiriii, gitu :D ,” kata saya dengan bangga karena melihat mereka makin merasa cerita saya ngga waras. Belum juga bisa menerima kenyataan bahwa dengan teriak KIRI bisa mengentikan si angkot, mereka keburu terkaget lagi dengan kenyataan bahwa angkot itu ngga ada jadwal pastinya. Saya perkenalkan mereka dengan istilah ngetem. Bagi kami, warga Indonesia, semua serba fleksibel. Bahkan kami terkenal mudah adaptasi di negeri orang. Mungkin karena tingkat fleksibilitasnya sangat tinggi.”Gimana cara kalian bisa tepat waktu kalau jadwal saja tidak ada??” tanya mereka. Dalam hati saya, sekarang kalian tahu segimana kerasnya hidup di Indonesia sehingga kecenderungan terlambat itu ada hehe. Saya jawab, “justru dengan tidak adanya jadwal, kita belajar dari pengalaman. Tidak tergantung pada seusatu yang telah ditentukan. Dengan belajar sendiri seperti itu bisa menciptakan masyarakat yang mandiri (saya sendiri merasa getek mendengar jawaban saya hahahaha! Geliii banget!) Setiap negara punya cara sendiri untuk bertahan hidup. Tantangan yang ada di Indonesia dan di Jepang itu berbeda. Tapi sama sama tantangan bagi satu sama lain :D “.

Hmm.. menarik menarik. Saya jadi merasa makin ingin menceritakan banyak hal tentang Indonesia.

Dalam satu post bisa ada lebih dari 1500 kata kalo diterusin. So, maybe I’ll keep it for next post ;) Keep reading ! :D


source : weheartit.com deviantart.com

Inventor, Designer.

Rasanya sudah lama ya saya ngga ngisi blog ini. Bahkan pertama kali buka postingan ini, masih bingung kata subjek yang akan saya ambil : aku, gue, atau saya ? Tapi, berhubung akhir-akhir ini saya menggunakan ‘saya’ , akhirnya saya mneggunakan ‘saya’. Kita buat ‘saya’ menjadi bahasa gaul ! Hahaha! Well, saya yakin saya belum bercerita sekarang ini saya sedang dimana. Saya sekarang kuliah di Kanazawa University, kota indah Kanazawa yang sangat peaceful. Bahkan, klakson pun tidak berbunyi di sini. Walau berjarak 5 km dari apartmen, kami *mau ngga mau tp emang* enjoy menjalani hari-hari dengan sepeda. Yap, kami adalah 10 mahasiswa ITB yang sedang menjalani Program Double Degree di Kanazawa University. Memang jauh dari keributan kota, tapi tempat ini tidak membuat kami merasa terisolasi dengan parahnya. Semua fasilitas, seperti IKEA-like bernama Kahma, supermarket, dan lainnya masih bisa dijamah oleh kami. Satu kata yang pas emang kata DAMAI buat kota ini. (Itu sebelum kami datang. Saya yakin kedatangan kami akan membuat hiruk pikuk kota kecil ini dengan keceriaan XD )

Memang banyak hal yang kami alami di kota damai ini. Tapi point yang ingin saya bahas untuk saat ini bukanlah hal tersebut. Ya, memang banyak kehebohan dan kedudulan yang kami buat, tapi mugnkin untuk post berikutnya. Well, let’s get to the point.

Design your dream city

Setelah 3 hari absen dari lab, pagi ini saya menongolkan wajah di lab. Seperti biasa, pagi hari, lab milik saya. Kadang suka foto-foto sendiri di sini, pasang AC sampe sedingin-dinginnya (karena temen-temen lab tidak suka dingin). Dan, saatnya untuk bimbingan. Saya datang ke ruangan sensei dan di sana sudah ada adik kelas (Kouhai) yang sedang curhat. Saya ikut-ikutan aja ngobrol bersama mereka. Kurang lebih beginilah obrolannya.

Dia sangat kesulitan dalam menentukan sebuah pilihan untuk Tugas Akhirnya. Ketakutannya akan hal baru membuat dia merasa ngga yakin sama hasilnya nanti. Dia juga sempat curhat tentang kampus tempat ia akan menjalankan Master. Nagoya kah? Kanazawa kah? Tsubaki kah ? Pembicaraan yang mengalir dengan alur penuh kebingungan. Begitulah yang saya rasa, hingga dia bertanya,

“Kenapa memilih Design ?”

“Eh, kenapa ya? karena dianjurkan sensei :D ” jawab saya, namun saya langsung menambahkan ,” dan ini adalah hal baru. Satu kata, menarik. Saya suka sekali dengan hal baru. Karena justru pasti banyak pelajarannya” sok tauny diri saya ini. Lalu di situ saya menceritakan tentang teori Design Theory menurut saya.
Dan inilah yang akan saya share. (Entah kenapa ketika saya cerita di tempat tersebut, ingin juga rasanya saya share di sini)

Design Theory tidak hanya lekat dengan seni rupa pada umumnya. Seperti rencana tesis saya, Design Theory adalah ilmu matematika kombinatorik. Mengerikan ? ya iyalah kalo mikirnya mengerikan :D . Ingin banget mengajak teman-teman untuk berpikir bahwa mengerikan bisa berubah menjadi menarik, halangan menjadi tantangan dan kegagalan adalah cara untuk mengetahui kesuksesan. Permainan mindset.
Tanpa munafik, saya juga deg-degan dengan paper pertama. Seorang yang suka sekali membuat event kekeluargaan seperti saya ini akan berkutat pada aljabar. Oh Tidak ! Tapi, ternyata tidak demikian.
Tiada seni jika suatu hasil didapatkan tanpa kesulitan.

Design Theory, sebuah teori untuk mengkonstruksikan sesuatu. Sudah banyak desain yang ada di dunia ini. Arsitektur, Grafis, Kombinatorik, dan lain-lain. Saya membaca beberapa desain dengan bergumam “ya iyalah”. Atau terkadang bersama teman-teman lab merasa teorema yang didapat adalah wajar dan terlihat mudah. Di sini, di lab ini, dan di saat ini juga, saya bisa sangat menghargai Pytagoras yang menemukan rumus sisi miring segitiga, dan bahkan yang membuat sistem bilangan 1 hingga 10. Mereka yang membuat dan mendesain suatu karya agar banyak hal menjadi lebih efisien. Berat sekali ya bahasanya ? Hahahaha. Hal ini saya rasakan ketika hampir menemukan satu desain. Jika dianalogi, sama aja seprti mencari 2×3 =6. Tapi, ternyata menemukan konstruksi perkalian pada jaman dulu pun tidaklah mudah ya… tampaknya.

Flashback sebentar, dengan latar belakang saya sebagai kriptografer, rasanya sangat berat ketika mendengar harus berpindah dari kriptografi ke Design Theory yang sangat aljabar. Kriptografi, mudahnya adalah ilmu Tom Cruise dalam memecahkan sandi di Mission Impossible atau karya tulis Dan Brown dalam Da Vinci Code. Sedangkan Design Theory ? It’s my first time I heard that theory in my major. Saya sempat mengajukan permohonan agar saya membuat sistem atau aplikasi saja daripada harus berkutat dengan aljabar. Tapi semua pandangan saya salah.

Dimulai dari desain theory, semua teknologi lahir. Design theory yang memiliki dasar number theory (bukan sekedar sistem bilangan 1 sampai 10 tentu saja :p) dapat digunakan dalam berbagai bidang. Hal yang membuat saya tertarik adalah karena teori ini dapat digunakan dalam memberi solusi medis (farmasi), satelit dan image processing. Yang dibentuk adalah pola pikir dan problem solving. Sebenarnya hal ini wajar jika teman-teman adalah orang sains, especially matematika. Tapi kali ini, semangat saya menggebu karena ilmu ini hanya dimiliki oleh beberapa orang. Dan menariknya , “menciptakan”.

So, I reaaaalllyyy proud to be a designer. Dan sangat menghargai karya mereka. Big thanks for them ! Hope I can be the one of them to cheer the world with useful design ! ;)

So that’s it ! Sedikit cerita tentang progres tesis saya (senang deh kalo bisa laporan progres ala blog kayak gini hix.. :( ) dan saya akan tetap belajar belajar berkoding bersketsa ber-doodling untuk memperoleh desain yang dapat digunakan org banyak *aamiin ! XD*

We are all.

We manipulate the environment, the better to serve our needs.

We select designers that items to own, which to have around us. We build, buy, arrange, and restructure: all this is a form of design. When consciously, deliberately rearranging objects on our desks, the furniture in our living rooms, and the things we keep in our cars, we are designing.

|| Don Norman

Kata Hati Pancasila

Teks Pidato B.J. Habibie 1 Juni 2011 menuaikan beberapa pandangan dalam beberapa helai kertas. Namun, satu hal, di usia kita yang sedang keluar dari era pendidikan wajib dan mulai menjalani hidup dengan pilihan yang lebih banyak, penggalan ini sangat berarti. Beginilah isinya :

Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau “VOC-baju baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost”. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Itu adalah jawaban, mengapa ilmu pengetahuan dan teknologi itu diperlukan. Mengapa mereka harus dicari dan sebisa mungkin kita miliki. Pandangan saya dan pandangan Anda pasti berbeda. Namun, kembali lagi, multikultural ini adalah fondasi arsitektural Tanah Air.

Saya bukanlah nasionalis fanatik. Tapi ingin bersama Anda, melakukan sesuatu untuk Pancasila. Jangan biarkan dia kecewa karena telah menjadi dasar negara kita.

heart travelling.

Well, perkenalkan, gue adalah seorang anak tunggal. Tidak kesepian. Tidak merasakan kerugian dalam jiwa raga gue yang melekat 21 tahun ini. Kenapa? Loneliness bisa dihapus kok dengan mudah jika (1) kita mau dan (2) we know HOW ! .. dan (3) -of course- you DO IT!

Lalulantas, apa yang gue lakukan ? Seribu untung, my great parents menyediakan dua hal di rumah, mahakarya yang selalu gue banggakan, yaitu : PS dan Internet !! :D Love them very much!  but believe me…

ITU kurang BAIK. -_-’

Setelah itu pun satu produk yang bisa dibilang membuat culture-shock pun muncul. Sebuah hape yang gede dan membuat orang selalu terpaut pada layarnya. Bahkan kalo ada dewa kematian pun, mungkin mereka akan bilang ” Wait !! I’ll update my status first, then you can take my soul!”.

Whatever. Menurut gue, dunia ini mulai menikmati arti ‘kesendirian’. Hm? Ga setuju? Well, bagi gue, mengautis di cozy place sambil nge-wiFi adalah salah satu bentuk menikmati kesendirian. Oh , say NO to HELL! (yaiyalah) I can’t say NO to social network beacuse I still need it :”> Tapi semua itu ada batasnya, dan jangan sampai OD. Use it effectively, karena tetap saja silaturahim dengan bertemu langsung itu banyak gunanya bo :) .

Anyway, untuk keluar dari jaring jaring kenyamanan (baca : comfort zone) ini, gue akhirnya memilih untuk memilih tas biasa, membawa hape, dompet, hands free, dan tetes mata softlens. Buat apa? Buat keluar dari rumah ! Hahaha! It’s different with ordinary day, because I’ll go without destination !! emm.. mksdny tanpa tujuan mau ngapain. Tapi arahnya sih ke sebuah mall dan jalan kaki. And guess what? I’ll go alone ;) .

Dalam perjalanan mengelilingi kota sambil berjalan membuat sebuah suasana yang kalo naik angkot cuman selewat aja menjadi suatu yang terperhatikan (susah banget ya kalimatnya heuheu). Yang gue lihat di balik kacamata hitam gue adalah trotoar yang bersih ! Hahaha… ternyata masih ada loh trotoar yang bersih di saat kota tempat tinggal gue ini terkenal sebagai kota penuh sampah. Dan beberapa daerah malah bisa jadi objek foto yang bagus (hey! That’s a lot opportunities for you, photographers ! ;)   )

Letih juga. Dan yeeeeyyy gue sudah sampai di mall! Dapet AC dingin hehe (well, gue cukup jujur, kalo terik membuat gue lebih nyaman di dalam mall ;P). Akhirnya gue makan di food court. Biasanya, gue memilih makanan, buka tas, ngambil dompet, bayar, ambil makanannya dan duduk. Tapi sekarang … gue mau melakukan hal berbeda ;) . Gue ngobrol dengan mereka yang bekerja di sana. Hmmm.. sayangnya, perut gue yang laper membuat gue ngga bisa ngobrol lama-lama. Damn, sorry, maybe next time I’ll explore it!

Duduk-duduk, ehh ada yang menarik perhatian gue! Oh, bukan bukan… bukan cowo cakep. Tapi… BAYI!! Owwhh she’s so cute! Gue yang duluny ga terlalu suka ma anak kecil, sekarang jadi suka dan suka dibilang pedofil. Hmm.. perubahan gue ini mungkin ngga gue ceritain sekarang ya.. kepanjangan ;) . Tapi yang pasti ni bayi lucu bangetttttt.. She’s smile at me dan hal itu membuat gue mendekatinya dan bermain dengannya. Dia tertawa tawa dan alhasil jadi ngobrol ma ibunya. Untung aja si tante baik, hehe maafkan aku yang sok kenal ;P. Gue akhirnya menyadari bahwa bayi ini lahir bagaimana dan berapa umurnya. Ah, u know, readers, gue sangat menyesal masa-masa hidup gue benar-benar monoton. Coba kalo gue lebih ngabisin waktu di Panti Bayi ?? Udah dpt pahala, bisa ketemu ma si imut tyap hari!! (… itu di luar harus nyebokin dan ganti popok ya ;P hahahaha kidding!)

Setelah ngobrol-ngobrol dengan si tante nan baik hati, gue akhirnya mengelilingi mall. Yeah, diskon di mana mana dan gue mencoba masuk salah satu toko ber brand oke (asli loh!). Biasanya gue cuman sekedar melihat-lihat, dan sekarang pun demikian. Buset… 800rebu. Sigh. Tapi hari itu, karena niat gue yang berbeda, gue mulai berpikir sesuatu.. yaitu bahan ! Kalo dipikir-pikir, bahan itu sangat ada di toko kain deket pasar. So, what now? fashion models? Brand? yap, Brand ! Hanya melihat Zara, MnS, Prada, Gucci, etc semua baju dibeli dengan harga nol nya ada lima. Yang ngga habis pikir lagi, kaos oblong pun terjual dengan 100 ribu. Well, jangan – jangan, kalo gue selipin satu baju dari tanah abang di sini, mungkin bisa dibeli dengan IDR 500000! Hahaha.. Eh, gitu-gitu, Im appreciate with all things yang sudah dibuat oleh marketing ZARA, Prada, dan lainnya. I read they issues dan well, kehebohan yang mereka buat dengan segala kontroversinya memang menarik, apalagi kalo membaca perkembangan mereka di Indonesia. Well, apapun trik (baca : strategi) marketing yang mereka lakukan, it’s still impressed me. Mungkin suatu hari akan dibahas di sini :) .

Yaaahh gue pun bukan orang marketing. Tapi sekarang ini, gue sangat menjempol mereka yang berkutat di dunia marketing secara serius. Selametin ekonomi Indonesia ya ;) Your skill akan sangat membantu sekali loh! Dan akhirnya gue pulang. Lagi-lagi perjalanan pulang membuat gue senang. Di jalan itu, masih ada yang jualan seni lukis asli buatannya. Gaya Eropa. Entah kenapa itu yang terbesit. Lalu topeng monyetbisa menjadi atraksi petang hari yang menarik, walau beberapa malah pergi. Takut kali ya dihinggapin monyet. Hahaha.. Jadi inget, gue pernah diajakin main ma monyet di kampus. Siapa yah waktu itu yang melihara monyet? Ah, forget it.

Sebenarnya banyaaakkk sekali yang bisa diceritain. Maybe next time coz someone sudah menegur negur gue untuk membuat tugas hihi. Well, see you next post with different things ! Cmon, dont be shy to explore ;) karena hidup lo bentar, isi dong dengan hal yang berbeda EVERY DAY! Stop being lonely, coz you dont.

Watch your media.

Tuk tuk tuk dan jam dinding di kamar tetep aja berdetak terus. Membuka file tugas rasanya berat. Bahkan walaupun dusah di Windows Explorer pun, untuk melihat nama file nya pun malas. Yeah, aku terkena sindrom akuttt : MALAS!

Untuk ngapa-ngapain malas. Tadinya nulis blog pun malas. Lalu aku tertegun pada sebuah TV. TV yang entah sudah berapa tahun ngga disentuh. Dia cuman menyala ketika aku tertidur. Teman yang menemaniku bermimpi.Sudah 4 tahun berkutat dalam dunia media (baca : radio kampus) dan tetap saja merasa sedih dengan media yang ada di Indonesia. Hingga keluar di status facebook bahwa seharusnya agen of the change yang paling keren adalah media, terutama TV. Miris banget rasanya ketika aku ke suatu acara workshop TV swasta dan dengan nyatanya dan dengan jelasnya beliau mengatakan bahwa pangsa pasar adalah hal yang dapat mempengaruhi penyajian di media.

Entah kenapa, definisi pendidikan terkurung sebatas kurikulum, silabus, dan segala sesuatu yang pada akhirnya akan dinilai dengan sebuah akreditas. Syukurlah, sebagian sudah tidak menganggapnya demikian. Banyak sekali tanda tanya sebenarnya. Jika memang banyak yang tidak dapat memiliki pendidikan formal karena keterbatasan uang, maka hanya media yang dapat menyelamatkan mereka. Sebenarnya senang sekali mendengar animasi Indonesia sejenis Upin dan Ipin mulai digemari masyarakat, dan juga si Unyil tentunya. Indonesia sudah mulai aware dengan hebatnya fungsi media dalam perkembangan Indonesia.

Well, go media 4 better Indonesia :D

Pre.

Satu kata satu arti satu alasan dalam menulis sesuatu.

Entah sudah sekian tulisan yang telah buat, tapi .

Lagi dan lagi, akhirnya buat tulisan baru. Yah, pada dasarnya, tulisan akan tersurat, dan pada akhirnya semua adalah

pelajaran , wise word , dan nothing.

Enaknya jadi manusia, bisa memilih.

So,

just make this as first, and let the other words as the end of the days.


Speak.

Previous.

Collect.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.